Menurut Out of Home Advertising Association of America (OAAA), sekitar 69% orang dewasa melihat billboard dalam 30 hari terakhir. Angka tersebut menunjukkan bahwa billboard masih menjadi salah satu media luar ruang yang memiliki peluang besar untuk menjangkau audiens di berbagai lokasi strategis. Meski begitu, billboard tidak hanya mengandalkan ukuran yang besar atau posisi pemasangan yang ramai. Pesan yang ditampilkan juga memiliki peran penting dalam menarik perhatian orang yang melintas.
Baca juga: Bagaimana Pola Lalu Lintas Memengaruhi Efektivitas Iklan OOH?
Pesan yang ditampilkan pada billboard dikenal sebagai copywriting, yaitu teknik menyusun kalimat pemasaran agar informasi dapat dipahami sekaligus menarik perhatian audiens. Berbeda dengan copywriting pada website atau media sosial, copywriting dalam billboard harus dibuat lebih ringkas agar pesan dapat dipahami dengan cepat oleh orang yang melintas.
Itulah sebabnya setiap kata dalam billboard perlu dipilih dengan cermat. Headline, tagline, maupun kalimat pendukung harus mampu menyampaikan pesan utama tanpa membuat audiens membaca terlalu lama. Pendekatan ini juga berbeda dengan media digital yang masih memberikan ruang untuk penjelasan lebih panjang.
Lalu, apa saja kesalahan copywriting yang membuat iklan billboard tidak menarik? Simak artikel ini baik-baik ya!
Tidak Mempelajari Terlebih Dahulu Audiens yang Ditarget
Banyak billboard menggunakan copy yang sama untuk semua orang. Padahal, orang yang melintas di kawasan perkantoran tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan mereka yang berada di sekitar kampus atau pusat perbelanjaan.
Sebelum menentukan headline, kenali terlebih dahulu siapa target audiens yang ingin dijangkau. Cara ini akan membantu Anda memilih bahasa yang lebih tepat, baik dari sisi gaya penyampaian maupun pilihan katanya. Hindari pula istilah yang terlalu teknis apabila billboard ditujukan kepada masyarakat umum.
Baca Juga: Hindari 7 Kesalahan Kreatif yang Sering Terjadi pada Iklan OOH dan DOOH!
Sebagai contoh, billboard apartemen premium di kawasan SCBD biasanya mengangkat pesan tentang investasi atau gaya hidup eksklusif. Berbeda dengan billboard restoran cepat saji di sekitar kampus yang lebih banyak menawarkan promo dengan bahasa yang ringan.
Terlalu Banyak Menggunakan Kata di Bagian Headline, Tagline, atau Slogan
Pernah melihat billboard yang isinya hampir satu paragraf? Sebelum selesai membaca, kendaraan sudah lebih dulu melintas.
Headline berfungsi menarik perhatian, sedangkan tagline atau slogan membantu memperkuat pesan yang ingin diingat. Karena itu, ketiganya tidak perlu diisi dengan kalimat yang panjang. Pilih satu pesan utama, lalu sampaikan dengan kata yang sederhana.
Kalimat seperti “Produk Baru Kami Kini Hadir Dengan Berbagai Macam Keunggulan Untuk Seluruh Keluarga Indonesia” tentu akan lebih sulit dibaca dibandingkan “Lebih Hemat. Lebih Cepat.” Hal yang sama juga terlihat pada slogan Indomie “Seleraku” dan Nike “Just Do It” yang tetap diingat karena singkat.
Tidak Memberikan Penjelasan Tambahan yang Menarik
“Internet Super Cepat.”
Headline seperti ini memang mampu menarik perhatian. Namun, audiens belum mengetahui apa yang sebenarnya ditawarkan.
Cukup tambahkan satu informasi yang mendukung pesan utama, baik berupa manfaat, promo, maupun harga. Dengan begitu, headline tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memberikan alasan mengapa produk atau layanan tersebut layak dipilih.
“Internet Super Cepat. 100 Mbps mulai Rp199 ribu per bulan.”
Mengabaikan Lokasi Sebagai Konteks Iklan
Lokasi pemasangan juga dapat menjadi bagian dari ide iklan sehingga pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dengan audiens.
Pernah ada billboard bergambar jam weker dengan copy “Jangan Telat Lagi Ya” yang dipasang di salah satu simpang besar Yogyakarta. Copy tersebut terasa relevan karena banyak orang yang melintas sedang berangkat bekerja atau sekolah. Contoh lain datang dari billboard Djarum Mild bertuliskan “Sabar… Semua Dapat Bagian…” yang dipasang di jalan dengan lalu lintas padat. Kalimat tersebut seolah menanggapi kondisi pengendara yang sedang mengantre kendaraan.
Copy seperti ini biasanya lebih mudah menarik perhatian karena terasa sesuai dengan situasi yang sedang dialami audiens. Itulah sebabnya, sebelum menentukan copy billboard, pahami juga konteks lokasi tempat iklan akan dipasang, bukan hanya jumlah kendaraan atau orang yang melintas.
Tidak Ada Proses Evaluasi Mendalam Sebelum Iklan Tayang
Typo, nomor telepon yang salah, atau alamat website yang keliru memang terlihat sederhana. Masalahnya, kesalahan tersebut sering baru disadari setelah billboard selesai dipasang.
Baca juga: Pelajari Strategi Iklan OOH untuk Brand Properti di Sini!
Sebelum iklan ditayangkan, periksa kembali seluruh isi copy, ukuran huruf, serta informasi yang ditampilkan. Apabila memungkinkan, tampilkan beberapa alternatif desain lalu minta orang lain melihatnya selama beberapa detik. Cara ini membantu mengetahui apakah pesan utama billboard sudah cukup jelas ketika dilihat sekilas.
Tidak Ada Call to Action
Tujuan billboard bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga mendorong audiens melakukan langkah berikutnya.
Call to action atau CTA dapat berupa ajakan mengunjungi website, memindai QR Code, menghubungi nomor yang tertera, atau datang langsung ke toko. Kalimatnya tidak perlu panjang, yang terpenting mudah dipahami dalam sekali lihat.
Copy seperti “Produk Terbaik untuk Anda” memang terdengar menarik, tetapi belum memberi tahu apa yang harus dilakukan audiens. Berbeda dengan “Scan QR untuk Dapatkan Promo Hari Ini” atau “Kunjungi Dealer Terdekat” yang langsung mengarahkan tindakan berikutnya.
FAQ Seputar Konten
- Apa kesalahan copywriting dalam billboard yang paling sering terjadi? Beberapa kesalahan yang sering ditemui antara lain tidak memahami target audiens, membuat headline terlalu panjang, mengabaikan konteks lokasi, tidak mencantumkan CTA, serta tidak melakukan evaluasi sebelum iklan dipasang.
- Berapa jumlah kata yang ideal untuk headline billboard? Tidak ada aturan baku, tetapi headline sebaiknya dibuat sesingkat mungkin agar mudah dibaca dalam sekali lihat. Fokuskan pada satu pesan utama.
- Apakah billboard harus selalu memiliki CTA? Ya. CTA membantu mengarahkan audiens melakukan tindakan setelah melihat iklan, seperti memindai QR Code, mengunjungi website, atau datang ke toko.
Kesimpulan
Itulah pembahasan mengenai kesalahan copywriting yang membuat iklan billboard tidak menarik. Hindari kesalahan tersebut agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima audiens dalam sekali lihat.
Hubungi Tim Rebound Ads, Jasa Sewa Billboard dan Videotron Tepercaya sekarang dan dapatkan konsultasi strategi iklan luar ruang yang dipersonalisasi untuk kebutuhan bisnis Anda!

